"Kirim gambar mobil itu lah via infrared!" kata irfan meminta sebuah gambar mobil dari handphone haris. Pada jaman itu, anak sd pada umumnya belom punya hp, tapi teman-teman ku sudah punya. Jaman dimana orang sholat di mesjid masih kedengran buyi pager, bukan sms.
Irfan adalah anak pengusaha batu alam untuk konstruksi rumah. Karena anak orang kaya, dia sering menghayal dan bertanya "gimana di kalau pesawat itu jatuh dari langit, dan mendarat di lapangan sekolah?" pertanyaan yang sering di tanyanya kepada siapa pun termasuk satpam sekolah.
"Ya pasti heboh lah fan"jawab ku setiap kali dia nanya. Mungkin itu pertanyaan keluar karena jaman orang belum banyak makan micin dia udah duluan makan micin banyak.

Setelah tamat sd dengan nilai UN yang tinggi, saya pun harus masuk smp. Orang tua saya sedikit berbeda dengan orang tu lain, maunya anaknya masuk ke sekolah islam, tapi nggak mau anaknnya masuk pesantren. Alhasil saya dan adik-adik saya masuk sekolah islam yang baru buka. Ankatan pertama, kedua, atau ketiga adalah hal biasa di rumah kami. Karena saya sukses sd di sekolah baru, akhirnya orang tua saya nyari lagi smp baru.

Anak tetangga namanya randi, juga adalah anak yang masuk sd yng baru buka. Randi berumur 2 tahun di bawahku, sebaya adekku. Kebetulan smp di sekolah randi mulai pembukaan ankatan ke 3, dan dengan label sama sekolah islam terpadu orang tua saya memasukan saya ke sana. Di tambah lagi ibunya randi memberikan label bagus ke sekolah tersebut, dan cerita ke ibu saya. Perckapan ibu-ibu selalu menjadi hal yang mudah diercaya sama ibu-ibu lain, sama kayak gossip di kompleks kami.

---

Hari pertama saya masuk sekolah baru, ternyat macet menghampiri sekolah kami. Terlambat, ud pasti, tapi tunggu dulu macet bukan dari sekolahku. Melainkan sekola tetangga yang lebih terkenal. Ada satu hal lagi yang aneh, ini sekolah baru kenapa gedungnya lama? Ada yang salah sepertinya.

Karena saya anak manis dan nurut aja apa kata orang tua, saya pun menghilangkan curiga tadi. Sesampainya di barisan terlambat, ada kata-kata legndaris, yang mungkin di turunkan turun menurun di kalangan orang medan "Karena hari pertama jadi saya bebaskan bla bla bla" kata seorang atasan guru, bahkan dosen kalau kelasalahan terjadi di hari pertama. Masalah selanjutnya datang
"Kamu Mts, atau smp?" tanya seorang guru membagi baris memisahkan smp da mts. Dengan begonya saya heran baju mts dan smp sama celana panjang biru, baju atasan putih. 5 detik otak ku brfikir keras, saya di daftarin sama org tua saya apa ? Mts atau smp? Kok nggak ada bilang ke saya !

Alhasil dengan filing dan keraguan yang tinggi saya bilang "Kayaknya Smp pak!"
Kata-kata mts baru pertama terdengar di gendang telinga, itu yang membuat pilihan jatuh ke smp. Sampai rumah ibu saya introgasi. Ternyata memang saya di masukan ke smp, bukan mts.

Saat ospek hari pertama, saya baru sadar ini sekolah sedikit kotor, beda jauh degan saat saya sd. Sebagai angkatan ke 3 teman sekelas dan seangkatan juga cuma sekitar 27 orang. Cewek cantik hampir nggak ada, berbeda dengan sewaktu sd. Saat pulang sekolah rata-rata teman pulang naik angkot, beda dengan sd teman pulang di jemput naik mobil pribadi, dan buat angkot 135 macet.

Seminggu setelah ospek saya sadar ini babak baru dalam hidup peralanan yang berbeda akan terasa di sekolah ini. Sampai akhirnya pada waktu pemilihn ketua osis smp kami untuk pertama kalinya.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home
Powered by Blogger.