"Assalamualaikum..." Ayah pulang dari kantor membawa bungkusan plastik.

"Waalaikumsalam, eh ayah pulang bawa apa nih?"
Dari dapur mamak jalan perlahan kedepan, melewati ruang keluarga dan ruang tamu yang berkeramik orange. Tiga langkah di depan ayah ibu sudah menjulurkan tangannya untuk salim kepada ayah.


"Ini ayah bawakan mentega dan tepung buat kamu masak." 

Ayah memberikan bungkusan plastik hitam itu kepada mamak. Ayah adalah seorang suami yang selalu pengertian, beliau sering membelikan tepung dan mentega sembari jalan oulang kerumah. Walau bukan membawa bunga atau cicin seperti orang masa kini kebanyakan, tapi cinta ayah kepada keluarganya melebihi apapun di dunia ini.


Sepasang sepatu dan kaus kaki aya telah dicopotnya, ayah masuk ke ruang keluarga meletakkan tasnya di tempat biasanya kemudian masuk kamar. Ayah melepaskan bajunya dan di gantung di samping pintu kemudian menggambil sarung berwarna coklat bermotif kota-kotak dan memakainya. Dari dalam pintu kamar coklat ayah keluar dan beranjak ke arah rak buku. Ayah memilih buku agama kesayangannya untuk di baca. Ayah keluar rumah dan duduk di teras sambil membaca bukunya tersebut. Seperti biasa setiap sore aku dan saudara-saudara ku bermain-main di teras rumah dekat ayah membaca bukunya.

----
NB : ayah adalah Kakek saya, dan aku adalah ibu saya
Lanjut Part 3
Read More
"Woi melamun aja !" Tegur Ari teman sebangkuku. Kuliah hari ini seperti kuliah biasanya, dengan dosen yang lebih banyak cerita ngelantur ketimbang pelajarannya. Dari 2 jam waktu yang di gunakan untuk kuliah, 15 menit di gunakan untuk mengajar dan sisanya ceramah di kelas yang tidak jelas arah pembicaraaanya. Pak Tomy adalah dosen Matakuliah Bangunan Air, yang notabene seharusnya pelajaran yang banyak hitungannya. Di tanagan Pak Tomy mata kuliah ini full ceramah. Pak Tomy Ini beragama Kristen dan saya Muslim, wajar saja agak males mendengarkan ceramah dari beliau.
Kampus ku adalah salah satu kampus Negeri di kotaku. Sering orang-orang mengatakan kalau masuk kampus ini kalian melanjutkan SMA kelas 4. Sistem murid maksimal 1 kelas 30 orang, teman sekelas tetap sama dari awal sampai tamat, rangking per semester adalah yang menyebabkan kampus ini di juluki SMA 4. Fulan adalah langganan ranking terakhir di kelasku. Masuk kampus jam 8 pagi pulang jam 1 siang persisi seperti anak SMA.
Di saat hayalanku semakin jauh ke negeri antah berantah tiba-tiba Pak Tomy teriak kepada Fulan.

"Fulan, coba Jelaskan apa perbedaan Bendung dengan bendungan?"

"Hmmm,,, anu pak." Fulan kaget dan terdiam.

"Makanya kamu belajar yang benar!"

Kemudian karena ketidak tahuan Fulan Pak Tomy berceramah lagi panjang lebar kesana kemari, aku pun melanjutkan hayalanku. Sampai pada satu kalimat yang tidak sengaja aku mendengarnya samar-samar di balik hayalanku.

"Makanya Fulan, kamu harus rajin Sholat! Biasanya orang rajin Sholat itu berfikir lebih banyak untuk kepentingan umum, bukan untuk diri sendiri!"

Bagaikan guntur menyambar, tiba-tiba aku berhenti menghayal. Pak Tomy adalah seorang Kristen bisa berbicara seperti itu. Aku sudah masuk Islam dari lahir hampir tidak pernah berfikir seperti itu. Aku pun berfikir keras dengan kata-kata yang di sampai kan Pak Tomy tadi. Ada benarnya juga pemikiran Pak Dosen ini, terkadang aku harus medengarkan kata orang lain juga. Walaupun yang di sampaikan belum tentu semuanya benar, tetapi tetap saja ada beberapa hal yang harus aku jadikan pelajaran dalam hidup ini.
---
NB : ini kisah nyata dengan bumbu-bumbu karangan, dan nama yang di samarkan
Semoga tidak sara
Read More
Aku dilahirkan ke dunia ini tanpa memiliki kakek kandung. Maksudnya sewaktu aku lahir kedua kakek ku sudah meninggal. Namun aku masih memiliki dua nenek kandung utuh pada saat  di lahirkan, walaupun sekrang ini mereka berdua juga sudah menyusul san kekasih hati mereka. 

Semua kisah tentang kakek Ishaq kudapat dari buya (ayah). Walaupun sosoknya tidak pernah langsung berjumpa tapi cerita beliau sungguh banyak manfaatnya. Kakek adalah sorang pemain bola Persatuan Sepak Bola Deli Serdang, beliau juga merupakan seorang perawat di salah satu rumah sakit negeri di kota Tebing Tinggi. 

Karena tinggkat loyalitas yang tinggi, totalitas dalam bekerja kakek di angkat menjadi seorang kepala perawat di rumah sakit tersebut. Sebagai kepala perawat kakek mendapat faisilitas ruah dinas di area rumah sakit. Kakek selalu dengan tangkas membantu semua pasien dengan sepenuh hati. Sering kali kakek berpapasan dengan orang lain mendapatkan senyuman, padahal kakek tidak ingat siapa orang tersebut. Mungkin orang yang memberikan senyuman tersebut adalah salah satu pasien rumah sakit yang dulu pernah di rawatnya. 

Suatu ketika soreang keturunan tionghoa datang ebrobat kerumah sakit. Ketika itu adalah jadwal kakek untuk jaga. Kakek tidak pandang bulu, namanya orang sakit harus dirawat dengan sepenuh hati. Dan pasien keturunan Tionghoa itu pun merasa puas dengan perawatan yang di berikan kakek tersebut. 
Beberapa bulan setelah itu orang tionghoa ini mampir ke rumah kakek. Kakek mempersilahkan tamunya tersebut dan masuk dalam rumah.


"Silahkan duduk pak, Maaf rumah saya sedikit berantakan, Mau minum apa pak?" kakek menjamu tamu 


"Ah , tidak  papa pak, tidak usah repot-repot. Begini pak saya berterimakasih sudah merawat saya beberapa bulan lalu di rumah sakit" dia mengeluarkan bungkus plastik berisikan kue

"Ya , sama-sama pak, aduh nggak usah repot-repot bawa kue pak" kakek mengambil bungkusan tersebut.

"Gimana sekarang sudah sehat kan ?" Tanya kekak.

"Sudah  pak, tapi ini anak saya lagi demam sedikit demam dan pilek."

"loh kenapa nggak di bawa ke rumah sakit ?"

"Ah tidak usah pak palng besok juga sudah sembuh minum obat" 

"Coba saya periksa sedikit ya pak ?" kakek mencoba melihat anak bapak tersebut dan mengananlisi dengan pengalamannya selama di rumah sakit.

"Ah anak bapak emang terkena demam biasa' saya anjurin minum obat ini aja pak." Anjuran kakek

"Owh, begitu ya pak Ishaq, kalau obat yang biasa saya berikan itu kenapa pak "

"Itu bagus juga cuman itu lebih cocok buat orang dewasa" 

"Owh begitu pak, baiklah pak terimakasih banyak sebelumnya, Kami izin pulang dulu ya pak Ishaq"
"ya pak silahkan. Terimakasih lagi loh pak kue nya"

Kemudian tamu keturunan tionghoa itu pulang. Setelah hari itu, setiap ada keluarga atau teman orang tionghoa tersebut terkena penyakit demam atau pilek, Dia hanya membawanya ke rumah kakek. Setiap kali kakek ditanya biaya berobat, kekek bilang dia nggak mengutip biaya. Walaupun begitu sering kali orang yang berobat memaksa memberikan uang. Sampai-sampai orang datang ke rumah kepala perawat rumah sakit untuk berobat, bukan datang ke rumah sakitnya.

Beberapa Dokter pun mengeluhkan pasien yang datang Berobat ke rumah kakeku ku itu. Pada akhirnya kekek kena tegur pihak rumah sakit agar tidak menerima pasien. Pada dasarnya kakek memang tidak menerima pasien, Namun Ketidak sengajaanya menyembuhkan orang tadi membuat pasien datang ke rumanya. Pada akhirnya kakek sama sekali tidak menerima kehadiran pasien ke rumahnya, walaupun dalam hatinya menolong orang itu tidak salah.

Semoga tulisan ini jadi amal zariah Almarhum kakek Ishaq 



Read More
"Bayangkan saat sampai  di rumah kedua orang tua kalian sudah meninggal!" Teriak seorang pemateri Muhasabah.

"Huaaaahhh!" Suara tangisan pun semakin keras di telinga.

Adi yang ikut dalam ruangan tersebut pun ikut menangis. Terbayangkan olehnya kejadian yang di ucapkan pemateri itu benar-benar terjadi, air matanya jatuh tiada terhenti. Muhasabah itu benar-benar curang, selalu memaksa seseorang untuk menangis dengan membawa-bawa orang tua. Nenek-nenek pemakan lolipop juga nangis kalau ingat orang tuanya.

"Kau tadi nangis paling keras yah 'di?" Gabe bertanya dengan logat bataknya.

"Ah enggak kok, aku tadi cuman pilek banyak debu di karpet situ." Alasan Adi.

"Jadi ini kok basah karpet tempat ko duduk tadi ? emh bauk pesing lagi!" Sambil mencium karpet tempat duduk Adi.

"Ah masa ?" Adi pun pergi , dan tidak selalu pura-pura tidak kenal Gabe lagi seumur hidupnya.

Beberapa tahun setelah itu, Adi sudah cukup terkenal di organisasi kampusnya. Adi juga sudah cukup sering menjadi pemateri di acara kampus. Kemudian Fakultas Suka Maju (FSM) membuat sebuah training buat anggota baru di organisasi fakultasnya. Karena Adi sudah sering mengisi materi di sana-sini maka adi yang dari Fakultas Salah Urus (FSU) di tunjuk jadi salah satu pemateri. selain ada ada juga Rudi dari FSU di tunjuk menjadi emateri Muhasabah. Muahasabah itu hampir sama dengan ESQ, ya buat anak orang mewek, dengan cara baca-bawa orang tua. Saat hari H training ternyata Rudi nggak bisa datang. Kebetulan Gabe adalah salah satu panitia yang bertanggung jawab atas kehadiran Rudi di acara tersebut.

"Aduh gimana nih? si Rudi nggak bisa datang lagi ?" Ucap Gabe.

" Udah ganti si Adi aja gak papa tuh!" Jawab Yuyun si Ketua Panitia.

"Apa pulak, Dulu dia aja ikut muhasabah nangis sampai kencing di celana," Gabe ngomong dengan logat batak.

"Di coba aja dulu deh siapa tau dia bisa, kalau nggak ada yang nangis yaudah kita ikhlasin aja!" jawabnya santai. Tiba-tiba tanduk juga keluar dari kepala Yuyun. 

Ketika Adi sampai di lokasi Yuyun pun menghampirinya dengan wajah senyum-senyum.

"Di kau jadi pemateri muhasabah juga yah ? si Rudi nggak bisa dateng nih," suara memelas Yuyun sampai di telinga Adi.

"Cakap kotor ni ketua panitia. nggak !" tolak Adi.

"Plis dii, kau harapan ku, yang lain nggak bisa, nanti jatah makan acara ini ku kasih double. hehe," Yuyun cengengesan manja.

"Yaudah deh!" berat bagi Adi menolak tatah makan lebih.

Acara mahasabah Adi mulai setelah Sholat Subuh. Malamnya adi berfikir keras bagai mana muhasaba besok pagi.  Adi mulai membuka HP nya dan mengotak atik lagu sedih untuk muhasabah. "Aduh nggak ada lagi lagu sedih!" sambil menggaruk kepala Adi terus berfikir. Dengan cepat dia melihat sisa kuota internet dan berfikir lagi. "Asssikk cukup!" Teiak Adi Membuat orang sekitarnya terbangun dan memberikan tatapan kesal. adi mendownload sebuah lagu sedih dengan kuota internel seadanya. Pagi pun tiba adi mulai mempersiapkan diri dan HP nya untuk memulai acara itu.

Lagu sedih pun di putar Adi, senyap sepi seketika di sekitar ruangan acara. Adi menyuruh peserta acara untuk memejamkan mata, dengan persiapan minim malam harinya adi memulai muhasabah. Adi mulai mengarang cerita dengan imajinasinya.

"Bayangkan saat sampai ke rumah kedua orang tua kalian sudah meninggal!" Teriak Adi.

Hanya ada satu orang perempuan yang menangis. Seharusnya itu bagian kelimaks dimana semua eserta nangis.

"Di, nggak ada yang nagis di." Bisik Yuyun.

"Masa Yun? ada tuh satu." Balas Adi dengan berbisik juga.

"owh yaudah lanjut deh sampai kelar Di!" perintah Yuyun.

Acara pun selesai, adi melihat hasilnya. 80 % dari peserta ternyata ketiduran, 1 orang nangis, dan sisinya cekikikan setelah acara.

"Thanks ya Di, udah mau bantu kita-kita~" Yuyun berterimakasih.

"Ya nggak masalah Yun!"

"Walaupun gagal ya lumayan lah buat ngisis acara. Btw di lo kok ikut nangis?" Yuyun melihat mata Adi sembab abis nangis.

"Nggak ah, ini tadi kelilipan!"
"Eh, ini kok celana mu basah ? kau kok bau pesing?" Yuyun tak sengaja mencium sesuatu.

"Eh Yun aku pulang duluan yah!" Samber Adi langsung buru-buru pergi.

Kemudian dari kejauhan Adi teriak " Ini semua mungkin karena hatiku terlalu lembut Yun!"

http://nyunyu.com

Read More
Seperti yang saya ceritakan di tulisan saya sebelum-sebelumnya, saya ini termasuk seorang siswa yang tidak pernah terlambat ke sekolah selama sekolah menengah atas (SMA). Awalnya bermula dari sekolah dasar (SD) dimana saya selalu terlambat sampai ke sekolah dari kelas 2 sampai kelas 4 SD. Bagaimana tidak terlambat, jarak rmah saya ke sekolah saya sekitar 8 kilometer, dan melewati daerah macet di kota medan yaitu mongonsidi. Selain itu saya juga selalu di antar menggunakan Mobil atau di antar menggunakan angkot. Sudah pasti kendaraan itu kalau sudah terkena macet pasti paling lama sampainya ketibang naik sepeda motor. 

SD saya dulu meiliki jadwal masuk jam 7.30 dan pulang setelah sholat Asar, sekitar jam 4 sore. Sehingga sekolah menyediakan makan siang untuk semua murid dan guru. Karena sekolah saya sekolah baru muridnya masih sangat sedikit per kelasnya. Kelas saya juga muridnya hanya sekitar 27 siswa. yang jadi masalahnya adalah hukuman untuk yang terlambat itu cuci piring makan siang murid lain. Kalau ada 3 orang siswa yang terlambat maka 3 orang siswa itu yang cuci piring satu kelas 27 orang dan biasanya saya wajib cuci piring karena rajin terlambat.

Jam istirahat setelah sholat Zuhur saya sudah pasti nongkrong cuci piring di kamar mandi sekolah. Berhubung masih SD nyuci piring itu kegiatan yang menyenangkan main-main air bersama teman-teman. Sampai suatu ketika saya beberapa hari terlambat sendirian terus. Ibu walikelas pun akhirnya ikut bantuin nyuci piring. 

"loh kok ibu bantuin saya nyuci piring?" anak polos ini nanya.
"iyah, ibu bosan lihat kamu terus yang terlambat!" dia menjawab sambil sedikit tersenyum. 
"owh ok bu". kemudian saya melanjutkan berkhayal nyeir mobil pakai piring-piring kotar ini.

Setelah dewasa saya baru sadar kalau ibu walikelasnya kasihan lihat saya nyuci piring mulu. Padahal sebenarnya saya nggak pernah cuci piring sendiri di rumah makanya saya senang-senang aja. setelah kelas 4 sd rumah saya pindah dekat dengan sd saya. Sekitar 2 km jarak dar rumah ke sekolah. muali hari itu saya nggak pernah terlambat lagi sampai ke sekolah.

Semasa SMA jarak sekolah ke rumah saya juga 8 kilometer, tapi bedanya sma saya pergi tidak di anter lagi. Jadi pas kelas 1 saya naik angkot dari rumah, saya bangun sebelum subuh sholat subuh di mesjid, abistu langsung mandi dan sarapan dan paling lama keluar rumah setengah 7 pagi. Sampai kelas 2 orang tua saya membelikan sepeda motoruntuk saya naiki dan kebiasaan pergi pagi itu nggak bsia hilang. sangking seringnya datang pagi saya serng lebih cepat datang dari si pade, cleaning service sekolah. bahkan kadang-kadang saya yang buka gerbang tangga untuk naik kelantai 2 sekolah. seharusnya itu kerjaan satpam tapi sepertinya satpam sekolah males bka gerbang dia cman buka gemboknya doank. 

Seaktu kelas 3 sma adki saya si ojan ikut masuk sekolah yang sama. Awalnya dia sempat ngeluh," ish bang ngapain cepat-cepat kali kesekolah?". "Nggak apa-apa jan lebih bagus kecepatan kesekolah ketimbang terlambat!" dan akhirnya dia ikut aja apa mau saya. Kalau ada award untuk jadi siswa paling cepat hadir pasti saya dapat.

Suatu ketika saya sadar saya udah di ujung masa sekolah, setelah sma nggak ada lagi sekolah. nggak tau entah pemikiran dari mana kok saya kayaknya belom pernah bandel sewaktu sma. Sampai pada suatu pagi saya berfikir kayaknya enak lari keliling lapangan sepakbola sekolah. Biasanya itu hukuman untuk siswa yang terlambat. Tapi sialnya saya kesekolah bonceng adek, kasihan dia di hukum gara-gara saya, toh dulu yang buat dia rajin bangun pagi saya juga, masa harus makan omongan sendiri? Namun, mungkin ini namanya kebetulan, tiba-tiba ban sepeda motor saya bocor di perjalanan. Akhirnya saya teraksa menghentikan kendaraan saya.
"Ah bisa terlambat lah ini sekolah kita bang!" Ojan Berkata.
"Itu ada tambal ban jan, ojan ke sekolah aja dulu naik angkot itu, abang nambal ban aja dulu, gpp kokabang belom pernah terlambat." saya melihat sebuah tambal ban.

Sewaktu saya dorong terlihat Wakil Kepala Sekolah lewat dan nggak negur. yaelah ni guru paling enggak negur kek atau bawa si ojan kek ke sekolah, toh dia nggak bonceng siapa-siapa dan nggak bakal terlambat sampai sekloah kalau bonceng si ojan. Tidak lama angkot pun lewat dan si ojan naik.
"Ojan duluan ya bang."
"ya jan" u jawab. 

Yessssss, dalam hati yang terdalam, bsia kena hukum sama guru terlambat dan lari kelililng lapangan sepak bola di akhir masa sekolah ini. Prosesi penambalan ban sepeda motor saya pun berlangsung selama 1 jam. Saat ini pukul 8 pagi dan suah pasti saya akan terlambat. Tebayang olah saya rasanya segar abis lari di lapangan hijau di kelilingi pohon besar. Saya pun melaju sepeda motor saya dengan sangat lambat biar makin afdol terlambatnya. Saya parkirkan kendaraan saya itu, namun sayang saya tidak dapat tempat parkir saya yang biasa karena tempat parkr udah penuh. saya nauk ke lantai 3 dan di bu guru BP udah mengunggu.
"Loh tumben terlamabat?" Guru BP bertanya.
"Ban sepeda motor saya bocor 'bu." Jawab ku.
Dan ia langsung percaya. Mungkin kalau siswalain dia akan langsung jawab lagi "Alesan klasik." tapi kenapa saya nggak di tanya gitu. Keadilan tidak merata di bumi ini. Kemudian saya di suruh baris dengan beberapa teman-teman saya yang emang sudah langganan baris pagi-pagi di temapat terlambat. 

Kemudian bu guru BP itu bertanya kepada siswa lainya alasan terlambatnya kenapa. sambil menunggu mungkin ada siswa lain yang terlambat biar di hukum bareng-bareng. setelah jam setengah sembilan sepertinya udah nggak ada lagi yang mau datang hukuman pun di mulai. Akhirnya saya bisajuga bandel sewaktu sma. Tiba-tiba wakil kepala sekolah lewat dan berkata " ini salim nggak usah di hukum tadi saya lihat dia bannya bocor, udah masuk kelas sana" sang guru BP pun angguk-angguk dan menyuruh saya kembali ke kelas.
"Damn udah hampir di hukum untuk pertama dan terakhir  selama sam malah di batalin."Gumamku dalam hati. Setelah itu pun saya berjalan ke arah kelas saya, kemudian melihat kebelakang. Ternyata hukumannya bukan lari tapi merentangkan tangan sambil angkat kaki.
"Eh sukur deh, kalau hukuman itu sih nggak asik cman pegal-pegalin badan aja" gumam ku.
Pada akhirnya saya beneran nggak pernah kena hukum terlambat selama masa SMA. Ada perasaan sedikit menyesal sih kenapa nggak pernah bandel. 
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home
Powered by Blogger.