"Yasudah lah di, kalau kamu tidak lulus UN nanti kita pindah sekolah lain saja, ngulang lagi satu tahun!" Kata-kata seorang ibu yang pesimis dengan anaknya. UN atau kepanjangan dari Ujian Nasional adalah syarat kelulusan siswa seklah dasar pada tahun ini. Sialnya kenapa mesti aku dan anggkatanku yang pertama merasakan ini.
Tahun ini adalah tahun di mana pertamakali UN dilaksanakan di tingkat SD, walau pun standar UN pertama sekali waktu itu adalah nilai rata-rata 4,0 jelas saja itu cukup meresahkan hati. Ditambah lagi nilai try out yang menunjukan nilai rata-rataku tidak sampai 4. Kepala sekolah yang terus menakut-nakuti semua siswa dan orang tua membuat Ummy juga stress. Sebagai anak SD yang selalu ranking 10-15, sering terfikir masa iya aku tidak bisa lulus UN. Jika angka siswa SD yang tidak lulus UN adalah 50% jelas aku masih aman.
Owh iya perkenalkan namaku Adi anak pertama dari 3 bersaudara. Aku bersekolah di sebuah SD swasta Islam yang baru buka. Aku angkatan pertama di SD tersebut. Karena angkatan pertama jelas tidak ada yang namanya abang kelas, yang ada hanya adik kelas. Namun angkatan pertama dengan UN yang pertama juga merupakan dilema yang sangat dalam.
---
Sehari setelah selesai try out untuk pertama kalinya, kami anggkatan pertama yang kece ini di kumpulkan di ruang guru oleh kepala sekolah. ruangan yang biasanya hidup lampu dan penuh penerangan saat itu di buat tanpa cahaya listrik. Hanya cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jendela yang tertutup gorden transparan. Sontak tiba-tiba sang bapak kepala sekolah pak sadar yang terkadang kami juluki bang sad, marah yang sangat hebat. Beliau marah karen nilai Try Out kami hampir semua tidak lulus, hanya ranking satu dan dua kelas saja yang lulus.
Kemudian kami diberikan masing-masing sebuah bungkusan daun pisang yang di tusuk oleh lidi kecil sebagai pengikatnya. Bungkusan tersebut persis seperti bungkusan tape pulut hitam. Sembari menasihati dengan nanda yang perlahan mulai melemah dan cenderung semakin sedih, kami di suruh membuka bingkisan tersebut. Ternyata isinya sebuah tanah, sambil marah-marah pak sadar mengatakan "Kalau hasil Try Out ini menunjukan hasil nilai UN kalian, maka saya telah gagal menjadi kepala sekolah, dan kalian juga gagal menjadi murid, Lebih baik kita makan saja tanah yang ada di hadapan kita masing-masing"
Sontak semua teman terdiam dan mulai mengeluarkan air mata, terutama anaknya pak sadar yang juga satu angkatan denganku. beberapa saat kemudian pak sadar berkata kembali "Kalau kalian tidak mau makan, biar saya saja yang makan."
Husni anaknya pak sadar dan Rana berlari menuju pak sadar untuk mengehntikan kegiatan aneh pak sadar hari ini. Semua teman seangkatan menangis kecuali diriku. Sebenarnya aku penasaran gimana jadinya kalau husni dan Rana tidak menghentikan pak sadar. Mungkinkah pak sadar melanjutkan aksinya makan tanah, lebih bagus seeprtinya makan beling sekalian di depan umum untuk di tonton, sambil ngutip sumbangan, lumayan hasilnya bisa buat beli jajan.
---
Tiga minggu kemudian, Try Out (TO)pun kembali diadakan. Kali ini sepertinya semua teman-teman tampak serius belajar sebelum memulai TO tersebut. aku masih penasaran kalau saja kepala sekolah makan tanah. eh ?
Satu hari setelah pengumuman nilai TO kami kembali di panggil ke kantor guru. bungkusan yang sama seperti waktu itu kembali di berikan masing-masing kepada kami. Kali ini bungkusannya sedikit lebih gembung dari yang lalu. Mungkin saja volume tanahnya lebih banyak karena sebagian besar dari kami masih tidak lulus UN versi TO. Pak sadar pun memulai kembali ceramahnya degan nada sedih.
"Kali ini kita akan benar-benar makan di dalam bungkusan itu, ini semua gara-gara kalian!!!"
"Buka bungkusan itu sekarang!" Perintah pak kepala sekolah. Pelan-pelan kami semua membuka bungkusan tersebut. Ternyata kali ini isnya adalah apel.
"Terima kasih, buat kalian persentase peningkatan jumlah yang lulus pada TO terakhir meningkat, masih ada 6 bulan lagi sebelum UN mudah mudahan dengan penigkatan terus menerus maka kalian semua lulus 100 %" Pak Sadar ceramah sambil tersenyum.
"Silahkan di makan apelnya ini adalah hadiah dari saya!"
---
Saatnya Pengumuman UN yang sebenarnya, seluruh siswa dan orang tua siswa di dudukan di bawah tenda di lapangan basket sekolah kami. Pengumuman resmi akan di umumkan jam 3 siang ini. Namun nilai sudah sampai kepada kepala sekolah dari jam 9 pagi. dengan cemah pak kepalasekolah kali ini berkata "Siswa kita sekitar 30% tidak lulus"
Jantung berdebar kencang mendengar kata-kata pembunuh semangat itu. Kemudian pak sadar membacakan satu persatu nilai kami. Ternyata nilai-nilai itu sungguh mengejutkan, sangking mengejutkannya jangkrik juga diam mendengarkannya. Semua nilai kami lulus jauh di atas rata-rata, bahkan nilai terrendah teman kami hanya nilai 7. Ada juga teman yang nilainya 10 semua kecuali satu matapelajaran dengan nilai 9 di mata pelakaran matematika. Nilai matematika, IPA, dan bahasa Indonesiaku juga 10. Memang sewaktu mengerjakan UN jauh lebih mudah ketimbang TO, Namun Nilai ini bagaikan iklan tv yang sampai tumpeh-tumpeh.
Nilai Ujan Nasionalku saat itu mampu untuk masuk SMP favorit di kota medan ini. Namun ada keputusan lain di rumah sehingga aku masuk ke sekolah swasta lainnya.